Sebelumnya, akan sangat tepat apabila gueh menetapkan terlebih dahulu nama rujukan untuk sang roommate tercinta.
Hmm...
OK, Juragan Oasis it is. Why? Karena gueh inget, barang pertama yang menandakan existensinya di kamar gueh ini adalah sekotak air minum Oasis yang tiba-tiba muncul di pojok kamar. Jadi ceritanya, dulu gueh nyampe di asrama ini duluan daripada beliau. Dan satu atau dua hari sebelum kegiatan universitas dimulai, gueh pergi keluar buat nyari makan. Ketika gueh balik ke kamar asrama, tiba-tiba muncullah sang dus Oasis. Sekarang dus itu pun masih terbaring tak bernyawa di kamar, masih persis di tempat yang sama dengan waktu pertama gueh liat dus itu. Tapi sekarang dus sudah beralih fungsi, menjadi rak buku jadi-jadian, menopang (ya, MENOPANG, bukan menyimpan) Harper's Biochemistry, Jawetz' Medical Microbiology, Understanding Nutrition, dan Biologi Molekuler Medis.
Heh, ngomong-ngomong soal pertama kali gueh ketemu Juragan Oasis, gueh inget dulu beliau dateng ke kamar ini sama orang tuanya dan, baru gueh tahu di kemudian hari, pacarnya. Gueh kira pacarnya itu adik perempuannya. How so? Because their faces are, dengan segala hormat, so much different in their qualities that it was safer to assume that they were siblings rather than a couple... (Sebelum meneruskan membaca, cernalah paradoks barusan dengan baik.)
Fortunately buat Juragan Oasis, the girl's face >>>>>> the boy's face.
Dan bermuara dari argumen yang sama, gueh pun spontan berkonklusi bahwa Juragan Oasis menderita suatu kondisi langka yang gueh sebut Sindrom Kromosom KW2. Tetapi gueh salah besar. Setelah gueh mengenal Juragan Oasis lebih jauh, gueh sadar bahwa Juragan Oasis punya banyak banget kelebihan, there's more to him than meets the eye.
Jadi, sebelum gueh keceplosan hal-hal yang akan terdengar berkontradiksi dengan kalimat gueh sebelumnya, mari gueh beberkan kelebihan-kelebihan Juragan Oasis yang mencolok.
Juragan Oasis rajin.
Sang juragan tidak pernah menghabiskan waktu luangnya dengan tidak belajar. Beliau unfailingly belajar dari pulang kuliah sampai tengah malam setiap harinya. Saking rajinnya, gueh pernah ampir serangan jantung waktu gueh pulang sekolah dan ngeliat beliau lagi nonton film di kamar.
Juragan Oasis disiplin.
Dari jadwal push-up sampai jadwal bikin susu, semuanya dilakukan Juragan Oasis dengan disiplin! Mau selelah apa pun, he always does those 100 push-ups every single day. Mau gueh bangunin setelat apa pun, he always makes his cup of hot milk first thing in the morning, bahkan walaupun harus kehilangan kesempatan untuk sikat gigi sebelum kuliah.
Juragan Oasis perhatian sama gueh.
Ini tercermin dari perkataannya sewaktu Juragan Oasis tahu bahwa gueh gak bisa nyetir mobil:
"Yes! AKHIRNYA! Gw bisa melakukan sesuatu yang lo gak bisa!"
Hati gueh langsung luluh ketika mendengarnya, terenyuh sampai ke lubuk yang paling dalam. Gueh gak pernah sadar sebelumnya bahwa saking besarnya perhatian sang juragan ke gueh, beliau berusaha menghafalkan kemampuan-kemampuan gueh...
Juragan Oasis sayang keluarga.
It is proven by his endless perseverance in the matter of going home. Kalau juragan sudah bertekad untuk pulang, gueh, hujan badai, ibu asrama, bahkan peraturan fakultas pun tidak bisa menghentikannya. Demi pulang, bus yang pelan dan kotor pun akan dia naiki, ribuan surat izin pun akan dia tulis, dan puluhan acara fakultas yang gak jelas pun akan dia tinggalkan.
Yah, sedikit kesepian sih gara-gara Juragan Oasis sering gak di kamar.. But it's okay, I get to live in a 15-million-a-year room for half the price.
Masih banyak lagi kelebihan Juragan Oasis, tapi waktu gueh gak cukup kalau mau mendeskripsikan semuanya.
Dan dengan berjalannya waktu, gueh pun menyadari bahwa Juragan Oasis dan gueh saling menyeimbangkan. We balance each other out. Nih gueh kasih beberapa contoh:
- Gueh jarang pulang, beliau selalu pulang.
- Gueh gak pernah belajar, beliau gak pernah berhenti belajar.
- Gueh beli textbook tapi ga pernah baca, beliau ga pernah beli textbook tapi selalu baca.
- Gueh cameuh, beliau tongos. (Thanks to salah satu Juragin for contributing this point)
- Gueh tinggi, beliau pendek. (Percaya sama gueh Gan, Zenith Growth atau apa pun itu mau sebanyak apa pun juga ga akan ngaruh banyak)
- Gueh gak bisa nyetir, beliau ke mana-mana nyetir. (Thanks to Juragan Oasis himself for contributing this point). Oh ya, tunggangannya itu singa prancis warna ijo, kalo gak salah.
- Gueh jomblo sejati, beliau playboy sejati. (Gueh mohon bimbingannya, Guru!!)
- Ranjang gueh empuk, ranjang beliau kaya ban kempes.
- Gueh gak pernah cuci kolor sendiri, kolor-kolor beliau menuhin jemuran kamar. Seandainya jemuran kamar gueh diletakkan di depan asrama, asrama gueh bakal keliatan kaya markas PBB.

ahahaha...
Masih banyak yang bisa gueh dongengkan, akan tetapi, post ini udah kepanjangan. Anyway, gueh bersyukur roommate gueh si Juragan Oasis dan bukan yang lainnya. Tanpa beliau, sepotong tulisan ini tidak mungkin bisa menjadi semenarik ini. Masih ada setengah tahun lagi, and I'm hoping that this small room of ours can witness more incredible things happen in the coming months.
Terakhir, gueh akui Juragan Oasis TIDAK mengidap Sindrom Kromosom KW2, beliau hanya memiliki Sindrom Kromosom KW2 Parsial.
hah.. ga baik, ga baik...